Deretan tokoh wanita hebat didikan Syaikhah Rahmah El Yunusiyah

Rahmah El Yunusiyah

Rahmah El Yunusiyah menjadi satu dari 10 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025 di Istana negara bertepatan dengan diperingatinya Hari Pahlawan Nasional. Rahmah El Yunusiyah adalah pelopor pendidikan Islam bagi kaum perempuan. Pada tanggal 1 November 1923, ia mendirikan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang, Pesantren Putri tertua di Indonesia, sebuah institusi pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan agama, ilmu umum, dan keterampilan hidup.

Perguruan Diniyyah Puteri juga berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia di Sumatra Barat saat itu. Syaikhah Rahmah El Yunusiyah aktif dalam pergerakan sosial dan politik, termasuk menentang penjajahan Belanda, hingga pernah ditangkap dan ditahan pada tahun 1949. Ia juga mendirikan unit perbekalan untuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang selama masa perjuangan kemerdekaan.

Pada Pemilihan Umum 1955, Syaikhah Rahmah terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili Masyumi.

Selain mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri, Syaikhah Rahmah juga mendirikan Perserikatan Guru-Guru Putri Islam di Bukittinggi. Beliau juga aktif dalam pergerakan menentang penindasan penjajah Belanda. Rahmah pun mendirikan Taman Bacaan Khuttub Khannah agar perempuan bisa meningkatkan literasi. Ia menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (GKIS) Padang Panjang serta ikut mendirikan Partai Masyumi di Minangkabau.

Dalam perjalanan 102 tahun usia Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, telah banyak melahirkan alumni yang telah berkiprah di bidang Politik, Ekonomi, Pendidikan, Budaya dan lain sebagainya. Lebih lanjut, Rasuna Said yang sudah lebih dulu dinobatkan sebagai pahlawan merupakan murid sekaligus alumni pertama Rahmah El Yunusiyah di Perguruan Diniyah Puteri.

Penting untuk dicatat bahwa Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, yang didirikan oleh Rahmah El Yunusiyah, merupakan inspirasi utama bagi Universitas Al-Azhar untuk mendirikan Kulliyatul Banat (fakultas khusus perempuan) pada tahun 1955. Atas kiprahnya tersebut, Rahmah El Yunusiyah dianugerahi gelar kehormatan “Syaikhah” oleh Senat Guru Besar Universitas Al-Azhar pada tahun 1957, gelar pertama yang diberikan kepada seorang perempuan oleh universitas tersebut.

Sebagai ucapan terimakasih, Al-Azhar Mesir memberikan beasiswa kepada alumni Diniyyah Puteri. Mahasiswi pertama dari Diniyyah Puteri Padang Panjang yang menjadi mahasiswa di Kulliyatul Banat Universitas Al-Azhar Kairo adalah Isnaniah Saleh dan Zakiah Daradjat Mereka memperoleh beasiswa dan berangkat ke Mesir pada tahun 1958. Kelak Isnaniyah Saleh memimpin Diniyyah Puteri pasca meninggalnya Syaikhah Rahmah El Yunusiyah pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada usia 68 tahun.

Kepergian Syaikhah Rahmah El Yunusiyah meninggalkan jejak yang abadi, melahirkan perempuan-perempuan hebat, pendidik sejati yang berkontribusi untuk negeri. Cita-cita pendirian Diniyyah Puteri, yang dirintis oleh Rahmah El Yunusiyah, memang berfokus pada pembentukan perempuan yang mandiri, berkarakter, dan siap menjadi “ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab kepada kesejahteraan bangsa dan tanah air”. Diantara para alumni Diniyyah Puteri yang paling berpengaruh adalah:

Rasuna Said

•Rasuna Said Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai orator ulung dan pejuang gigih untuk kemerdekaan Indonesia serta hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan politik. Beliau dijuluki “Singa Podium” atau “Singa Betina” karena pidato-pidatonya yang lugas, tajam, dan berani menentang penjajahan Belanda.

Meskipun sempat menempuh pendidikan sekuler, beliau kemudian memilih bersekolah agama di pesantren Ar-Rasyidiyah dan Diniyyah Putri Padang Panjang. Kecerdasannya membuatnya menjadi guru di sana, namun beliau meninggalkan sekolah tersebut karena perbedaan pandangan mengenai pentingnya pengajaran ilmu politik kepada santri perempuan.

Rasuna Said aktif dalam berbagai organisasi pergerakan nasional, termasuk Sarekat Rakyat (SR) sebagai sekretaris cabang dan kemudian Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Melalui Permi, beliau aktif berorasi dan menulis di surat kabar, menyuarakan ide kemerdekaan dan keadilan. Kemampuannya berpidato membuatnya ditakuti oleh pihak Belanda. Beliau adalah perempuan Indonesia pertama yang dihukum berdasarkan pasal ” Speek Delict ” (hukum kolonial Belanda yang mengungkung kebebasan berpendapat) karena pidatonya yang menuntut kemerdekaan rakyat Indonesia. Beliau dipenjara selama 15 bulan di penjara wanita Semarang pada tahun 1932. Selain kemerdekaan, beliau juga fokus memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam aspek pendidikan, sosial-politik, dan ekonomi. Beliau turut menginisiasi terbentuknya Persatuan Wanita Republik Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said menjabat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Sumatera, anggota DPR RIS, dan terakhir sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga akhir hayatnya. Secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 13 Desember 1974. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan utama di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Aisyah Ghani

•Aisyah Ghani: Mantan Menteri Kebajikan Masyarakat Malaysia 1973-1984. Beliau adalah seorang politisi wanita senior dan pejuang hak perempuan di Malaysia. Beliau juga dikenal sebagai Senator wanita pertama di Malaysia pada tahun 1963. Selain peran menterinya, beliau adalah Ketua Pergerakan Wanita UMNO Malaysia (1972-1984) dan merupakan pendiri Yayasan Kebajikan Negara. Beliau juga seorang wartawan dan pengusaha yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan.

Isnaniyah Saleh

•Isnaniyah Saleh: Setelah pendiri Perguruan Diniyyah Puteri, Rahmah El Yunusiyyah, wafat, Isnaniyah Saleh termasuk salah satu tokoh senior yang melanjutkan perjuangan dan memimpin lembaga pendidikan putri pertama di Asia Tenggara tersebut.

Emma Yohana

•Emma Yohana: Anggota DPD RI untuk daerah pemilihan Sumatera Barat, dan saat ini telah menjabat selama beberapa periode (sejak 2009). Ia dikenal sebagai salah satu senator senior. Emma Yohana memulai karirnya sebagai pengusaha. Ia mendirikan Yayasan Pendidikan Citra Al-Madina di Padang yang menaungi PAUD, TK, dan SD, serta Rumah Sakit Ibu dan Anak.

Nurhayati Subakat

•Nurhayati Subakat: Beliau adalah seorang pengusaha kosmetik dan filantropis Indonesia, dikenal luas sebagai pendiri dan Komisaris Utama PT Paragon Technology and Innovation, perusahaan di balik merek kosmetik populer seperti Wardah, Make Over, Emina, dan Kahf. Ia merupakan pionir dalam industri kosmetik halal di Indonesia. Titik balik kesuksesannya adalah peluncuran merek Wardah pada tahun 1995 yang menargetkan pasar kosmetik halal, sebuah ceruk pasar yang saat itu belum banyak digarap di Indonesia. Melalui dedikasi dan visi yang kuat, Wardah berkembang pesat dan kini menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar kosmetik Indonesia, menjadi perusahaan kosmetik nasional terbesar di negara ini. Di bawah payung Paragon Corp, Nurhayati Subakat juga meluncurkan merek-merek lain yang sukses, seperti Make Over, Emina, OMG, Tavi, dan Kahf. Nurhayati Subakat dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak suka memamerkan kekayaan. Berkat kontribusinya, ia dinobatkan sebagai salah satu dari “20 Wanita Paling Berpengaruh” oleh Fortune Indonesia pada tahun 2022, bersanding dengan tokoh nasional lainnya seperti Megawati Soekarnoputri dan Sri Mulyani. Kisah inspiratifnya, dari usaha kecil hingga memimpin raksasa industri kecantikan, telah menginspirasi banyak wirausahawan di Indonesia.

Sakinah Junid

•Sakinah Junid: Beliau merupakan tokoh penting dan pejuang emansipasi wanita di Malaysia. Beliau dikenal sebagai Ketua Dewan Muslimat Partai Islam Se-Malaysia (PAS) yang pertama, menjabat dari tahun 1963 hingga 1983. Beliau memainkan peran signifikan dalam Angkatan Wanita Sedar (AWAS), organisasi wanita nasionalis pertama di Malaysia, yang didirikan pada akhir 1945. Pada usia muda, beliau menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang mengesankan dan berpidato di depan kerumunan 7.000 orang pada sebuah rapat umum di Taiping pada tahun 1947, menyuarakan suara perempuan untuk kemerdekaan. Setelah AWAS dilarang, Sakinah Junid melanjutkan karir politiknya di PAS, di mana suaminya, Mohd Asri Haji Muda, juga merupakan pemimpin terkemuka. Beliau memimpin Dewan Muslimat (sayap wanita PAS) selama 20 tahun. Perjuangannya untuk emansipasi wanita dan kemerdekaan diabadikan dalam sejarah Malaysia. Sebuah biografi tentang beliau dan suaminya, berjudul “Asri Sakinah: Menyulam Kehidupan”, ditulis oleh salah satu putri mereka, Ratna Inzah, pada tahun 2021.

•Penyiar RRI yang menyiarkan kabar kemerdekaan Indonesia dalam Bahasa Arab sehingga terdengar hingga Mesir dan Palestina, dua negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.

Rosmaini, MS

•Rosmaini, MS: Beliau dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional yang telah berkontribusi besar dalam dunia pendidikan Islam, khususnya di Provinsi Jambi. Pendiri Diniyyah Al-Azhar Indonesia. Sejak tahun 1977 setelah menamatkan pendidikannya di Diniyyah Puteri Padang Panjang pada tahun 1975 (Dari Diniyyah Menengah Pertama, Kulliyatul Muallimat al Islamiyah dan Fakultas Dirosat Islamiyah hingga menjadi guru) beliau memulai merintis pendirian Diniyyah Al-Azhar di Muara Bungo dengan membabat hutan, dari yang awalnya murid 1 orang hingga sekarang menjadi lembaga pendidikan islam terkemuka di Provinsi Jambi. Mendirikan 21 sekolah formal mulai dari Taman Penitipan Anak hingga Sekolah Menengah Atas dan dua perguruan tinggi. Beliau telah membangun Diniyyah Al-Azhar selama hampir setengah abad, menjadikannya pusat pendidikan Islam terlengkap di Jambi.

Aisyah Amini

•Aisyah Amini: Seorang politikus senior dan ahli hukum Indonesia berdarah Minang yang dikenal sebagai “Singa Betina dari Senayan”. Ia adalah anggota DPR RI/MPR RI dengan masa jabatan terlama, dari tahun 1977 hingga 2004, mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebelum terjun ke dunia politik, ia adalah seorang advokat independen dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia dikenal sebagai orator yang terampil di parlemen dan pernah terlibat dalam perjuangan masa agresi militer Belanda kedua di bagian dapur umum dan palang merah.

Khadijah Ali

•Khadijah Ali: Beliau merupakan tokoh perempuan Riau yang berkontribusi dalam mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam, terutama untuk kaum perempuan.  Beliau merupakan salah satu pendiri Yayasan Diniyah Pekanbaru pada tahun 1962, bersama dengan Hj. Asma Malim, Hj. Raden Mas Oentoro Koesmarjo, dan H. Bakrie Sulaiman pada tahun 1962. Beliau berperan aktif dalam mendirikan dan memajukan pendidikan Islam, khususnya untuk perempuan di Riau, termasuk mendirikan Diniyah Putri Pekanbaru yang berfokus pada pendidikan khusus putri.

•Suryani Thaher: Beliau adalah seorang tokoh Muslimah dan ulama Betawi yang dikenal sebagai perintis Majelis Taklim Kaum Ibu di Jakarta dan pendiri Yayasan Perguruan Atthahiriyah (sekarang Institut Agama Islam Suryani Thaher). Beliau adalah salah satu tokoh perempuan sentral dalam gerakan perempuan di masa Orde Baru. Beliau dikenal sebagai penggagas dan pendiri Majelis Taklim khusus kaum ibu di Jakarta, yang memainkan peran penting dalam pendidikan agama dan pemberdayaan perempuan. Beliau dihormati sebagai ulama Betawi dan dijuluki “Singa Podium Perempuan Betawi” karena kefasihannya dalam berdakwah. Beliau mewakili gerakan perempuan Muslimah di era Orde Baru, bersama tokoh lain seperti Prof. Zakiah Daradjat.

Zakiah Daradjat

•Zakiah Daradjat: Adalah seorang tokoh pendidikan Islam terkemuka di Indonesia dan pelopor dalam bidang psikologi Islam. Ia dikenal atas kontribusinya yang signifikan terhadap sistem pendidikan nasional dan pemikiran tentang kesehatan mental dalam perspektif agama. Zakiah Daradjat berperan penting dalam merumuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan Islam dan mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan nasional. Ia adalah pelopor psikologi Islam di Indonesia. Menurutnya, kesehatan mental dapat dibina melalui keyakinan beribadah, hidup dekat dengan Tuhan, dan menjalankan perintah-Nya. Ia menekankan peran agama yang intensif dalam menjaga kesehatan mental. Ia produktif menulis buku yang menjadi rujukan dalam studi pendidikan Islam dan psikologi di Indonesia, antara lain: Ilmu Jiwa Agama, Kesehatan Mental, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah serta Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.

Halimah Syukur

•Halimah Syukur: Beliau adalah salah satu tokoh pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Lampung, dan mendirikan Perguruan Diniyyah Putri Lampung bersama dengan Dewan Dakwah pada tahun 1974. Halimah Syukur memimpin dan mengembangkan Perguruan Diniyyah Putri Lampung, sebuah institusi pendidikan Islam khusus putri yang berfokus pada pendidikan agama dan umum. Di bawah kepemimpinan beliau, pondok pesantren tersebut menerapkan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan agama (65%) dan pendidikan umum (35%).

Melihat kiprah dan semangat Syaikhah Rahmah El Yunusiyah dalam membangun bangsa, tak heran sosok-sosok perempuan hebat alumni Diniyyah Puteri Padang Panjang menjadi dikenal melalui peran penting dan pengaruhnya di Masyarakat. Tentu masih banyak lagi alumni yang memiliki peran dan pengaruh yang besar di Masyarakat selain yang tersebut diatas.

Pemikiran yang terlalu jauh melampaui zamannya, membuat didikan Syaikhah Rahmah El Yunusiyah mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat dimana saat itu pendidikan adalah sebuah kata yang jauh dari ketercapaian apalagi bagi kaum perempuan. Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah solusi masalah sosial yang harus bersifat adil dan membebaskan, mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan umum, dan berorientasi pada kemandirian serta pemberdayaan perempuan. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang holistik untuk membentuk muslimah yang berdaya, mandiri, dan mampu menjalankan peran strategisnya dalam keluarga dan masyarakat.

Ia percaya bahwa pendidikan harus diakses oleh semua orang, terutama perempuan yang sering kali tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Pendidikan tidak hanya mencakup pengajaran agama, tetapi juga pengetahuan umum dan keterampilan praktis. Tujuannya adalah untuk menciptakan individu yang beriman, berakhlak mulia, dan terampil. Ia melihat pendidikan sebagai sarana utama untuk memecahkan berbagai permasalahan sosial dengan berlandaskan prinsip-prinsip Islam yang adil. Untuk itu beliau mengembangkan model pendidikan yang menggabungkan sekolah, asrama, dan masyarakat untuk membentuk kepribadian muslimah yang kuat. Di mata beliau sekolah tidak boleh berafiliasi dengan organisasi politik mana pun dan harus bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda untuk memastikan keberlangsungan dan kemerdekaan institusinya.

Kini, setelah perjuangan panjang dan melelahkan yang dilakukan Ahli warisnya, Syaikhah Rahmah El Yunusiyah mendapat gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia Bidang Perjuangan Pendidikan Islam setelah 51 Tahun yang lalu sang Murid, Rangkayo Rasuna Said lebih dulu menerima gelar Pahlawan Nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *