
Oleh: Wira Hadikusuma, S.Ag.,M.Ag
Diniyyah Al-Azhar Jambi yang berada di bawah naungan Diniyyah Al-Azhar Indonesia, kembali melaksanakan kegiatan tahunan untuk semua tingkatan siswa dari jenjang TK Islam, SDIT, SMPIT, dan SMAIT yaitu Peragaan Manasik Haji 2026 yang berlokasi di Kampus 2 Diniyyah Al-Azhar Sei Kambang Kota Jambi dari tiga lokasi kampus kebanggaan Diniyyah Al-Azhar Kota Jambi.
Kegiatan ini mengajak serta melibatkan semua pelajar baik dari internal maupun dari eksternal sebagai peserta undangan. Setidaknya ada sekitar 20 SD negeri dan swasta, 20 SMP negeri dan swasta dan 20 SD negeri dan swasta yang diajak untuk berkolaborasi dalan mempraktekkan pengetahuan pendidikan agama Islam pada bagian Haji.

Haji merupakan sebuah kewajiban yang diembankan kepada umat islam yang telah memiliki kemampuan dan memenuhi kriteria. Haji bagian dari pilar pokok agama yakni 5 rukun Islam. Menunaikan ibadah haji merupakan puncak dari pengamalan seorang muslim atau muslimat terhadap agama yang dipeluknya, maka suatu yang tidak bisa ditawar seseorang harus meniatkan dan menghajatkan hidupnya untuk bias menunaikanya meski sekali seumur hidup. Dizaman yang penganut agam Islam sudah dalam jumlah yang sangat banyak, menyebabkan masa tunggu yang terhitungg lama terkhusus di Negara mayoritas berpenduduk muslim. Maka satu diantara cara mengobati kerinduan ke tanah suci bisa dengan Umrah (Haji Sunnah).
Megingat pentingnya setiap muslim dan muslimat mengerjakan rukun islam ke-5 ini, sudah seharusnya setiap individu menyiapkan ilmu dan harta serta kemampuan. Diniyyah Al Azhar Jambi telah rutin mengajak semua sektor di lingkungan Yayasan Pendidikan Diniyyah Al Azhar untuk giat bertamu ke rumah Allah (Mekah dan Madinah). Terutama anak-anak para siswa baik yang sudah remaja ataupun masihh usia dini. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung, “Menumbuhkan Keinginan Berhaji Sejak Dini”. Mengingat ibadah tidak mengenal usia, maka semua individu berhak mengamalkan agamanya. Bila ia telah dewasa, maka menjadi kewajiaban ataa dirinya segalla tuntunan amaliyah agama Islam. Dan ketikan ia masih berusia kanak-kanak maka peran guru dan orangtualah yang akan menuntunnya.
Para pendidik di lingkungan Diniyyah Al-Azhar Indonesia tidak hanya diamanahkan mengajar tapi membimbing sampai mampu dan tidak pernah berhenti untuk belajar mengajak kepada kebaikan. Usia dini merupakan momentum yang sangat bagus untuk menanamkan kemampuan dalam beribadah. Oleh sebab itu peragaan manasik haji ini menjadi salah satu item yang termuat dalam laporan tahunan hasil belajar siswa, yang paling penting lagi agar semua anakk telahh siap untuk diajak berumrah atau berhaji oleh walinya, agar setiap bagian ibadah umrah/haji tidak ada yang alfa. Sebagaimana Allah mengajarkan :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. …” (QS. Al-Baqarah/2: 196)

Kegiatan ini mendapatkan support dan apresiasi yang sangat baik dari banyak elemen, hal ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh- tokoh penting yang turut hadir, dari Polda jambi, POlsek Telanai Pura, Dinas Pendidikan, terutama Wakil Gubernur Jambi sekaligus sebagai Ketua PW IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Jambi yaitu bapak Drs. H. Abdullah Sani, M.Pd.I yang berkesempatan memberikan bekal ilmu serta dukungan atas pelaksanaan kegiatan Peragaan Manasik haji ini.

Wakil Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar Indonesia bapak Dr. H. Abdul Muhaimin El-Yusufi, B.Sy.E., M.E. menyampaikan pesan pada acara yang baik ini, bahwa kegiatan ini harus memberikan dampak terhadap setiap peserta terutama untuk anak-anak yang baru ikut, agar benar-benar merasakan selayaknya ibadah sungguhan yang mana setiap rukun dan pos pemberhentian mampu dimengerti dengan baik dan memahami dengan benar hikmah dari setiap alur manasik haji.
Para peserta memakai kain ihram dengan rapi, semua serba memutih, berniat karna Allah, setiap kloter yang berjumlah 38 mewakili dari setiap daerah dari Indonesia Raya, rombongan dilepas bertahap oleh para tamu undangan dan bapak Wakil Direktur Pendidikan DIAZ Indonesia. Memulai rangkaian dari niat di miqat, kemudian bertawaf, lalu ke Arafah, Muzdalifah dan Mina, bermalam melontar jumroh, tawaf lagi serta Sa’i, mengingat perjuangan Sayyidah Hajar, lalu berhenti untuk minum air zam-zam, berakhir pada cukur rambut dan tahallul.
