
Tahun 2025 ini merupakan perjalanan panjang Diniyyah Al-Azhar yang telah memasuki usianya ke-48 Tahun. Namun belumlah sebanding tentu sangat jauh dengan perjalanan panjang Universitas Al-Azhar As syarif di Mesir yang kini telah memasuki usia 1053-1055 Tahun yang mana dari masjid, Al-Azhar berkembang menjadi madrasah (sekolah) dan kemudian menjadi universitas. Al-Azhar didirikan pada masa Dinasti Fathimiyah di Kairo, Mesir pada tahun 960-972 Masehi. Al-Azhar berperan penting dalam penyebaran ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya seperti filsafat, kedokteran, astronomi dan matematika.
Sedangkan Diniyyah Al-Azhar merupakan penggabungan 2 nama lembaga yaitu Diniyyah yang berpusat di Muara Bungo dan Al-Azhar di Kota Jambi. Berdiri di kota kecil jauh dari kata maju yaitu Muara Bungo, Pendirinya Umi Dra. Hj. Rosmaini salah seorang murid Syaikhah Rahmah El Yunusiyah (Pendiri pesantren putri tertua di Indonesia) yang mendapatkan gelar syaikhah dari Al-Azhar Mesir. Diniyyah Al-Azhar dengan Visinya Menjadi World Class Institution yang menyeimbangkan pola pengajaran terpadu Al-Qur’an, Hadits dan Keilmuan Modern, terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperluas jaringan dan kerjasama.
Tahun 2025 ini Diniyyah Al-Azhar telah memasuki tahun ke-6 dan sejak 2019 yang lalu telah mendapatkan persetujuan tersertifikasi cabang resmi Al-Azhar Mesir dalam penerapan kurikulum Tarbiyah Islamiyah, Bahasa Arab dan Al-Qur’an. “Tersertifikasi cabang resmi Al-Azhar Mesir” merujuk pada lembaga pendidikan, dimana pesantren atau sekolah, yang telah mendapatkan pengakuan dan izin resmi dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan kurikulum dan standar Al-Azhar. Alhamdulillah Diniyyah Al-Azhar telah melewati proses verifikasi dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Al-Azhar, sehingga lulusannya diakui memiliki kualitas dan kompetensi yang sejalan dengan standar Al-Azhar.
Alasan Pemilihan Kurikulum Al-Azhar Mesir selain mutu dan kwalitas pendidikannya yang terbukti telah banyak melahirkan ulama kelas dunia seperti: Syeikh Nawawi al-Bantani (Indonesia), Hasan al-Banna (Mesir), Abdul Somad (Indonesia), Muhammad Quraish Shihab (Indonesia), dan Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Juga Al-Azhar berpegang pada Manhaj wasathiyah. Manhaj Wasathiyah Al-Azhar ialah pendekatan Islam yang menekankan keseimbangan, keadilan dan moderasi dalam menjalankan ajaran agama. Konsep ini mengadopsi jalan tengah antara ekstremisme dan liberalisme, serta menolak sikap-sikap yang kaku dan tertutup dalam memahami ajaran Islam. Konsep ini juga menolak pemahaman agama yang sempit dan tekstual (bayani) tanpa mempertimbangkan konteks dan hikmah yang terkandung dalam ajaran Islam.
Wasathiyah juga menolak pemahaman agama yang terlalu liberal dan mengabaikan nilai-nilai dasar Islam. Manhaj ini tentu sangat tepat diterapkan di Indonesia agar terus terjaganya rukun dan damai baik di Internal ummat Islam maupun antar ummat beragama yang diakui di Indonesia lainnya seperti: Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu.
Di Indonesia, beberapa pesantren dan sekolah telah menjalin kerjasama dengan Al-Azhar dan mendapatkan sertifikasi sebagai cabang resmi, salah satunya adalah Diniyyah Al-Azhar yang menyelenggarakan program Al-Azhar dari tingkat SDIT sampai SMAIT/MA. Diniyyah Al-Azhar merupakan lembaga pendidikan satu-satunya di Provinsi Jambi yang tersertifikasi cabang resmi Al-Azhar Mesir.
Lulusan Diniyyah Al-Azhar baik di tingkat SDIT, SMPIT/MTS dan SMAIT/MA bukan hanya mendapat ijazah dari Kemendikdasmen atau Kemenag namun juga mendapat ijazah yang diberikan oleh Al-Azhar Mesir bahkan ditandatangani langsung oleh Grand Syekh Al-Azhar Syekh Dr.Ahmed Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb. Hal ini sangat memungkinkan lulusan Diniyyah Al-Azhar dapat melanjutkan ke Al-Azhar Mesir tanpa tes di semua jenjang tingkat pendidikan baik SMP, SMA dan Perguruan tinggi pada semua Fakultas.
Proses pendaftaran pada program Azhari ini dimulai dari kelas 1 pada setiap jenjang pendidikannya. siswa pindahan dapat mengikuti pembelajaran namun tidak mendapatkan ijazah dari Al-Azhar Mesir.
Diniyyah Al-Azhar berkeyakinan sudah seharusnya khittah pendidikan pesantren ini mesti menjadi sebuah momentum kebangkitan ummat dengan mempersiapkan generasi yang menghapus dikotomi ilmu (memisahkan antara pendidikan umum dan agama). Diharapkan apapun jadinya lulusan Diniyyah Al-Azhar: Dokter, Polisi, TNI, Pengusaha, Insinyur, Arsitek, Seniman, Akademisi, mestilah dibekali dengan pemahaman agama yang cukup agar memiliki karakteristik keislaman yang kuat, mampu memberi manfaat dan menjalankan nilai-nilai ajaran islam di segala bidang. Seperti banyak lulusan Al-Azhar Mesir selain Agamanya kuat, Hafal Qur’an tidak melupakan Ilmu Umum seperti Kedokteran, Arsitektur, Pendidikan, Pertanian, Perdagangan dan lainnya yang turut menjadi sebuah kebermanfaatan di Dunia. Jadi orang tua tidak perlu khawatir anak akan ketinggalan pelajaran umum dan tidak semua siswa diharapkan melanjutkan studi ke Al-Azhar Mesir walaupun Al-Azhar tidak hanya memiliki Fakultas Agama Islam saja seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah wal Qanun, Fakultas Bahasa Arab, dan Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabiyyah tetapi juga memiliki jurusan umum seperti: Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Seni dan Fakultas Pertanian. Tentunya kurikulum Al-Azhar yang diterapkan di Diniyyah Al-Azhar ini semakin menambah privilage, memperkuat mutu dan kualitas lulusan.
Penerapan kurikulum Al-Azhar ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, penguatan mutu Pendidik, Metode pengajaran dan Sosialisasi yang terus menerus kepada walimurid menjadi upaya yang terus menerus digencarkan agar guru, siswa dan walimurid memahami tujuan dan proses pembelajaran. Ditambah lagi dengan Inovasi Pembelajaran seperti Program I’daad At Ta’lim (Matrikulasi) pada 3 bulan pertama bagi siswa baru agar mempersiapkan diri sebelum melaksanakan pembelajaran pada kurikulum Al-Azhar dengan penguatan pada 4 Mata pelajaran yaitu: Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tahsin dan Tajwid serta menterjemahkan Muqorror (diktat) per kata. Selain itu juga dilaksanakan 2 termin pembagian mapel untuk SMAIT dan MA agar tidak mengurangi fokus pada kurikulum wajib Nasional.
Setiap Bulannya seluruh Mu’allim (Pendidik) melalukan Multaqo (Pertemuan) dimana selain untuk melaporkan proses pembelajaran, juga membahas permasalahan dan perencanaan kedepan. Ada juga Festival Azhari (Mahrojaan Azhari) dengan mengadakan lomba-lomba pada mapel Al-Azhar juga menjadi penguatan motivasi belajar siswa sekaligus mencari bibit potensial untuk dipersiapkan pada lomba-lomba di eksternal.
Ada beberapa mata pelajaran yang diajarkan dalam kurikulum Azhari yang diantaranya:
– [ ] SDIT: Tarbiyah Islamiyah – Bahasa Arab dan Al-Qur’an
– [ ] SMPIT/MTS: Bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Imla’, Qisshoh) Ushuluddin (Tauhid, Tafsir, Hadits, Siroh Nabawiyah), Fiqih, Tahfidz.
– [ ] SMAIT/MA: Bahasa Arab (Nahwu – Shorof – Balaghoh) – Tajwid – Mirats – Hadits – Khot – Muthala’ah – Tsaqofah – Nushus wal Adab – Mantiq – Arudh – Fiqih – Ushul Fiqh – Tafsir – Ilmu Tafsir – Tarikh Adab – Tauhid
Dengan demikian, indentitas keislaman generasi muslim akan menjadikan mereka kaya akan Pengetahuan, Kemampuan dan Wawasan.
Sejak tahun 1990 hingga saat ini telah banyak alumni Diniyyah Al-Azhar yang melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir. Apalagi dalam 2 tahun terakhir meningkat signifikan. Ketika lulusan pesantren lain harus mengikuti rangkaian tahapan pengurusan untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar Mesir, Lulusan Diniyyah Al-Azhar memiliki privilage dengan dapat langsung mendaftar dan datang lebih awal serta tanpa mengikuti persiapan bahasa yang dilaksanakan di Indonesia ataupun di Mesir selama 3 atau 6 bulan.
Penerapan Kurikulum Al-Azhar di Diniyyah Al-Azhar ini bukan branding apalagi persaingan lembaga namun lebih dari itu menuju lembaga yang berkualitas dan dengan harapan akan lahir generasi pemimpin masa depan yang Cerdas dan berakhlak untuk mengembalikan kejayaan islam di masa yang akan datang.
