Menanamkan Keinginan Berhaji Sejak Dini melalui Program Praktik Manasik Haji di Diniyyah Al Azhar Indonesia


PENULIS : MUHAMMAD ROMADHON, M. Ag.
WAKIL KETUA II STIT AL AZHAR DINIYYAH JAMBI


Di tengah derasnya arus modernisasi, satu pertanyaan mendasar patut kita renungkan: sejauh mana generasi muda hari ini benar-benar memahami makna ibadah dalam Islam? Apakah ibadah hanya dipahami sebagai kewajiban formal, atau sudah menjadi kesadaran batin yang tumbuh sejak dini?

Ibadah haji, sebagai rukun Islam kelima, sesungguhnya bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah simbol totalitas penghambaan, latihan kesabaran, serta pembentukan karakter spiritual. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman dalam Q.S Ali Imran ayat 97

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

bahwa haji merupakan kewajiban bagi yang mampu. Namun, di balik perintah itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: ibadah membutuhkan kesiapan, dan kesiapan itu tidak lahir secara instan. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi kunci, dengan pendekatan pendidikan agama tidak lagi cukup jika hanya berhenti pada aspek kognitif. Anak-anak tidak cukup hanya “tahu” tentang haji, tetapi perlu “merasakan” dan “mengalami” nilai-nilai di dalamnya. Hal ini sejalan dengan pandangan David A. Kolb yang menyatakan, “Learning is the process whereby knowledge is created through the transformation of experience.” Artinya, pengalaman adalah inti dari pembelajaran itu sendiri.

Pandangan serupa juga ditegaskan oleh Zakiah Daradjat yang menyebutkan bahwa pendidikan agama tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus disertai dengan pembiasaan. Sementara itu, Ahmad Tafsir menekankan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia. Bahkan, Syed Muhammad Naquib al-Attas secara tegas menyatakan, “Education in Islam is the process of instilling adab in man.”


Di sinilah praktik manasik haji menemukan relevansinya. Program ini bukan sekadar simulasi ibadah, melainkan bentuk konkret dari pendidikan berbasis pengalaman. Anak-anak diajak menapaki rangkaian ibadah haji—dari ihram, wukuf, hingga tawaf—dalam suasana yang mendekati realitas. Mereka belajar bukan hanya dengan mendengar, tetapi dengan melakukan.

Fenomena ini juga diperkuat oleh berbagai penelitian. Studi dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik keagamaan mampu meningkatkan nilai agama dan moral anak secara signifikan. Artinya, pendekatan ini bukan hanya ideal secara konsep, tetapi juga terbukti efektif secara empiris.

Di Yayasan Diniyyah Al Azhar Indonesia, praktik ini bukan sekadar wacana. Program manasik haji telah menjadi agenda rutin yang melibatkan ratusan peserta didik dari berbagai jenjang. Di sana, anak-anak tidak hanya dikenalkan pada tata cara ibadah, tetapi juga ditanamkan nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan keikhlasan. Seorang guru di lingkungan yayasan tersebut pernah menyampaikan dalam sebuah kegiatan, “Kami tidak hanya ingin anak-anak tahu apa itu haji, tetapi kami ingin mereka merindukan haji.” Pernyataan ini sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam: pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang menumbuhkan rasa.

Di tengah realitas saat ini, di mana sebagian generasi muda mulai menjauh dari praktik keagamaan yang substansial, program seperti ini menjadi semacam oase. Ia menawarkan pendekatan yang lebih humanis, menyentuh hati, dan relevan dengan perkembangan anak. lebih dari itu, menanamkan keinginan berhaji sejak dini sejatinya adalah investasi jangka panjang. Ketika seorang anak telah memiliki pengalaman emosional dan spiritual terhadap ibadah haji, maka di dalam dirinya telah tumbuh orientasi hidup yang jelas: bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa pendidikan agama tidak boleh berhenti pada transfer ilmu. Ia harus menjadi proses pembentukan jiwa. Program manasik haji adalah salah satu contoh bagaimana pendidikan dapat bergerak dari sekadar “mengajar” menjadi “menghidupkan”. Dan mungkin, dari langkah-langkah kecil anak-anak yang menirukan thawaf itu, kelak akan lahir generasi yang benar-benar melangkah menuju Baitullah bukan hanya dengan kaki mereka, tetapi juga dengan hati yang telah lama siap.

Dengan demikian, program manasik haji ini bukan hanya menjadi kegiatan pembelajaran, tetapi juga merupakan investasi pendidikan jangka panjang dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki orientasi ibadah yang kuat. Keberhasilan program ini sekaligus menegaskan bahwa Yayasan Diniyyah Al Azhar Indonesia layak menjadi model dan inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya dalam mengembangkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berkelanjutan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *