
Nama : Muhammad Romadhon, M.Ag
Jabatan : Wakil Ketua II STIT Al Azhar Diniyyah Jambi

- Pendahuluan
Pesantren Ramadhan merupakan salah satu program pendidikan keagamaan yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan dengan tujuan menanamkan nilai-nilai keislaman serta memperkuat karakter religius peserta didik. Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pendidikan yang efektif dalam membentuk kepribadian muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Di Diniyyah Al Azhar Jambi yang dibina langsung oleh direktur Pendidikan H.M Hafidz El Yusufi, S.Pd,I.,M.M, kegiatan Pesantren Ramadhan dilaksanakan melalui berbagai program pembinaan yang terstruktur, seperti tadarus Al- Qur’an, tausiah Ramadhan, berbuka puasa bersama, serta pelaksanaan shalat berjamaah, tarawih, dan witir di Masjid Diniyyah Al Azhar Jambi. Rangkaian kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan peserta didik, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap ibadah.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut sesuai konteks pendidikan Islam, peran murobbi dan murobbiyah sangat fundamental. Mereka tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi membimbing, mengarahkan, dan menjadi teladan dalam praktik keagamaan. Oleh karena itu, kegiatan Pesantren
Ramadhan mampu menjadi sarana pembinaan spiritual dan moral yang membentuk generasi yang berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia dan pembahasan mengenai peran murobbi dan murobbiyah dalam Pesantren Ramadhan perlu dianalisis secara normatif berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.
Lebih jauh, Pesantren Ramadhan dapat dipahami sebagai bentuk implementasi pendidikan Islam yang bersifat integratif, yaitu memadukan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu rangkaian kegiatan yang sistematis hal ini sejalan dengan pandangan Abdurrahman An-Nahlawi yang menyatakan bahwa pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia. Dalam pelaksanaannya, peserta didik tidak hanya menerima materi keagamaan secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi media internalisasi ajaran Islam yang efektif dan kontekstual.
Di tengah tantangan era modern yang ditandai dengan perubahan sosial yang cepat, degradasi moral, dan lemahnya kontrol diri generasi muda, keberadaan Pesantren Ramadhan memiliki relevansi yang semakin kuat. Program ini menjadi ruang pembinaan intensif yang menumbuhkan kesadaran spiritual, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial peserta didik. Dalam hal ini, murobbi dan murobbiyah memegang peran strategis sebagai figur pendamping yang memastikan bahwa proses pembinaan berjalan secara terarah dan berkesinambungan.

B. Konsep Murobbi dalam Pendidikan Islam
Secara etimologis, murobbi berasal dari kata rabba yurabbi tarbiyatan yang berarti mendidik, memelihara, dan menumbuhkan. Dalam perspektif pendidikan Islam, murobbi adalah pendidik yang membina seluruh aspek kepribadian peserta didik, baik intelektual, spiritual, maupun moral. Imam Al- Ghazali menegaskan bahwa tugas pendidik adalah menyempurnakan akhlak dan mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya peran pendidik dalam membina umat, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Ali ‘Imran: 104 yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran.
peran murobbi tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan keislaman, tetapi juga pada pembinaan karakter dan kepemimpinan spiritual peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang unggul serta berkontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Dalam perspektif pendidikan Islam kontemporer, pembinaan karakter (character building) merupakan inti dari proses tarbiyah. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah penanaman adab, yaitu pengenalan dan pengakuan akan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud, sehingga melahirkan manusia yang berkepribadian utuh dan berintegritas. Dengan demikian, murobbi berfungsi sebagai agen pembentuk adab yang membimbing peserta didik agar memiliki keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal dalam kehidupan sosialnya.
Lebih lanjut, kepemimpinan spiritual yang dibangun melalui proses pembinaan di Pesantren Ramadhan juga memiliki relevansi dengan konsep tanggung jawab sosial dalam Islam. Abdurrahman An-Nahlawi menjelaskan bahwa pendidikan Islam harus mengarahkan peserta didik pada kesadaran
sebagai khalifah di muka bumi, yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat dan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 30 tentang mandat kekhalifahan manusia di bumi. Oleh karena itu, murobbi tidak hanya membina kesalehan individual, tetapi juga menumbuhkan kesalehan sosial sebagai manifestasi dari nilai-nilai keislaman yang aplikatif.
C. Peran Murobbi dan Murobbiyah dalam Pesantren Ramadhan

- Sebagai Pendidik dan Pengajar
Dalam dinamika pendidikan Islam, keberhasilan murobbi dan murobbiyah terhadap program pembinaan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai tersebut mampu membentuk kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Seperti yang selama ini dilakukan oleh murobbi dan murobbiyah Diniyyah Al Azhar diniyyah Jambi, selain sebagai pendidik, murobbi dan murobbiyah terlihat secara nyata dalam sesi penyampaian materi keislaman menyampaikan tausiah Ramadhan dalam kegiatan pesantren Ramadhan kepada peserta didik dengan berbagai tema yang relevan dengan nilai-nilai ibadah dan sosial dalam Islam.
Oleh karena itu, eksistensi murobbi dan murobbiyah dalam kegiatan Pesantren Ramadhan memiliki peran strategis dalam membangun kualitas insan yang utuh dan berdaya saing. Pada kegiatan tersebut, misalnya, materi tentang “Ganjaran Memberi Ifthar bagi Orang yang Berpuasa” disampaikan kepada peserta level 1–3, sedangkan materi “Keutamaan Bersedekah” diberikan kepada peserta level 4–6. Melalui penyampaian materi ini, murobbi
dan murobbiyah tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk memahami nilai-nilai kedermawanan, kepedulian sosial, serta keutamaan berbagi kepada sesama, khususnya pada bulan Ramadhan.
Dengan demikian, kegiatan tausiah yang terdapat dalam Pesantren Ramadhan menjadi sarana penting bagi murobbi dan murobbiyah untuk menjalankan fungsi edukatif, yaitu membangun pemahaman keislaman yang benar sekaligus menanamkan nilai-nilai moral dan sosial dalam diri peserta didik.
2. Sebagai Pembimbing Spiritual
Dimensi spiritual merupakan inti dari pelaksanaan Pesantren Ramadhan. Bulan Ramadhan tidak hanya menghadirkan kewajiban ibadah puasa, tetapi juga menjadi momentum intensifikasi ibadah dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Dalam konteks ini, selain sebagai pengajar murobbi dan murobbiyah Diniyyah Al Azhar Diniyyah Jambi berperan sebagai pembimbing ruhani yang mengarahkan peserta didik agar mampu memahami makna ibadah secara mendalam, bukan sekadar menjalankannya secara formalitas. Seperti pada kegiatan tadarus Al-Qur’an, berbuka puasa bersama, serta pelaksanaan shalat berjamaah.
Kegiatan tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan sebelum sesi tausiah menunjukkan adanya upaya membiasakan peserta didik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam. Selain itu, kegiatan berbuka puasa bersama dan shalat berjamaah yang dilaksanakan setelahnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kebersamaan serta memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah di antara peserta didik.
Dapat disimpulkan Peran murobbi dan murobbiyah Diniyyah Al Azhar Jambi dalam semua kegiatan pesantren Ramadhan adalah sebagai media untuk membimbing, mengarahkan, serta memastikan bahwa setiap ibadah dilaksanakan dengan tertib dan penuh kesadaran, dalam hal ini selaras dengan yang dikatakan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyya, yang menekankan pentingnya
pembinaan hati sebagai pusat kesadaran dan perilaku manusia, dengan demikian, murobbi dan murobbiyah berperan membantu peserta didik menata hati dan memperkuat hubungan vertikal (hablum minallah) agar berdampak pada perilaku sosial (hablum minannas).
3. Sebagai Teladan (Uswah Hasanah)
Keteladanan merupakan metode pendidikan paling efektif. Q.S. Al- Ahzab: 21 menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik. Murobbi dan murobbiyah Diniyyah Al Azhar Diniyyah Jambi sangat menjunjung tinggi nilai integritas, kedisiplinan, dan konsistensi ibadah. Menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam karyanya Tarbiyatul Aulad fil Islam, pendidikan melalui keteladanan merupakan sarana paling efektif dalam membentuk kepribadian anak, karena peserta didik cenderung meniru perilaku figur yang dihormati dan dipercayainya. Dalam hal ini para murobbi dan murobbiyah Diniyyah Al Azhar Jambi tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik dalam menjalankan ibadah dengan khusyuk dan tertib seperti dalam kegiatan shalat Isya, Tarawih, dan Witir yang dilaksanakan secara berjamaah di Masjid Diniyyah Al Azhar Jambi. Dengan demikian, murobbi dan murobbiyah dalam Pesantren Ramadhan harus menyadari bahwa setiap sikap dan tindakan mereka menjadi model yang akan direkam dan ditiru oleh peserta didik.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran murobbi dan murobbiyah dalam kegiatan Pesantren Ramadhan di Diniyyah Al Azhar Jambi memiliki posisi yang sangat penting dalam proses pembinaan peserta didik. Mereka tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.
Melalui kegiatan tausiah, tadarus Al-Qur’an, berbuka puasa bersama, serta shalat berjamaah, murobbi dan murobbiyah membimbing peserta didik untuk memahami ajaran Islam tidak hanya secara teoritis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari. Keteladanan, kesabaran, dan keikhlasan para murobbi menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial kepada peserta didik. Dengan demikian, Pesantren Ramadhan tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan, tetapi menjadi sarana pembinaan yang mampu menumbuhkan generasi yang berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia.
